Bedugul

Objek wisata Bedugul terletak di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Tanah Lot

Objek wisata Tanah Lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, Bali.

Garuda Wisnu Kencana

Objek wisata GWK terletak di tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.

Kintamani

Objek wisata Kintamani terletak di Desa Batur, Kecamatan Kintamani Kabupaten Daerah Tingkat II Bangli, Bali.

Sangeh

Objek wisata Sangeh terletak di Desa Sangeh,Kecamatan Abiansemal,Kabupaten Badung, Bali.

Selasa, 29 Januari 2013

Objek Wisata Bali: Pulau Indah Nusa Lembongan

Nusa Lembongan


Nusa Lembongan merupakan salah satu Objek Wisata di Bali yang mungkin belum banyak yang tau tentang keberadaan tempat ini.

Secara umumnya, di sebelah tengggara pulau Bali terdapat 3 pulau kecil yang merupakan objek menarik yang bisa anda kunjungi ketika berlibur ke Bali tentunya.

Tiga  pulau tersebut adalah Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Nusa Penida yang termasuk dalam Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.

Nah, untuk mencapai ketiga lokasi yang disebutkan anda harus melewati perjalanan laut kurang lebih 30 menit dengan menggunakan perahu boat atau kapal cruise.

Kemana saya harus pergi ketika hendak ingin berwisata ke 3 pulau tersebut? Mungkin pertanyaan ini yang terdapat dalam benak anda.

Sanur (Pantai Sanur) atau Benoa (Pelabuhan Benoa) adalah tujuan anda, dilokasi ini anda akan mendapati pilihan perahu boat atau kapal cruise yang siap menghantarkan anda menuju indahnya pulau-pulau kecil yang masih milik Bali. Eits, jangan lupa beli tiketnya dulu ya...hehehe

Nah kali ini, roombucket pengen menulis tentang satu pulau indah tersebut, yakni Nusa Lembongan. Nusa Lembongan adalah pulau pertama yang akan anda lewati sebelum dua pulau lainnya dan Nusa Lembongan merupakan pulau terbaik dari yang lainnya jika kita lihat dari segi pariwisatanya.


Mata pencaharian utama masyarakat Nusa Lembongan adalah sebagai petani rumput laut. Sebagian lagi bekerja di sektor pariwisata dan sektor penunjang pariwisata.

Nusa Lembongan ini sangat terkenal dengan keindahan pantainya yang berpasir putih dan jernih. Di pulau ini anda dapat melakukan aktivitas bahari seperti snorkeling, parasailing, diving atau sekedar jalan jalan di tepi pantai. Atau anda juga bisa hanya bersantai dan bermalas-malasan berdiam diri di hotel atau vila yang ada di pulau ini.


Nah untuk anda para pasangan romantis, pulau ini sangat cocok untuk anda yang ingin melakukan aktivitas bulan madu.

Selamat berkunjung ke pulau indah Nusa Lembongan....

Rabu, 23 Januari 2013

Pura Pulaki: Pura Terbesar di Bali utara

Bali memang terkenal dengan pulau seribu pura karena mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Tentu saja anda tau, Pura adalah tempat suci agama Hindu.

Kali ini Roombucket akan menulis tentang salah satu pura yang terdapat di Bali, yaitu Pura Pulaki.


Pura Pulaki merupakan Pura Hindu terbesar yang terletak di Bali utara, tepatnya terletak di Desa Banyu Poh, Kecamatan Grokgak, di bagian barat Kabupaten Buleleng. Untuk mencapainya dari kota Singaraja akan membutuhkan waktu sekitar 120 menit.


Yang menjadi keunikan daripada Pura Pulaki ini yaitu memiliki pemandangan yang menakjubkan yang bisa anda nikmati karena di bangun di kaki bukit dan persis di depan pantai.


Bukit dan laut memanjakan mata anda ketika berada di kawasan Pura Pulaki tersebut.

Dan uniknya lagi, terdapat banyak monyet yang berkeliaran di dalam maupun di luar Pura.

Anda bisa berbagi makanan kepada monyet-monyet penghuni wilayah Pura Pulaki, tapi tetap waspada dan berhati-hati dengan barang bawaan anda agar tidak di rusak bahkan di bawa kabur monyet-monyet yang nakal.

Apalagi jika anda mengajak hewan kesayangan anda nih, harus lebih berhati-hati. Jadi inget kejadian waktu saya mengunjungi Pura Pulaki, anjing kesayangan saya hendak diserbu puluhan monyet jika tidak cepat-cepat dimasukkan ke mobil.. hehe

Nah ketika memasuki Pura, anda bisa melihat dan menikmati keindahan dan jelasnya warna biru laut indah yang terbentang di depan mata, dibingkai oleh perbukitan hijau di kanan dan kiri.

Kemudian ada lebih banyak tangga harus anda lewati jika anda ingin memasuki bagian utama sebagai tempat di mana pengunjung menaruh sesaji mereka dan berdoa.

Pada bagian utama itu monyet-monyet yang bergelantungan di dahan pepohonan menunggu saat yang tepat untuk mencuri buah-buahan atau makanan yang terdapat pada sesaji. Dan sepertinya pengunjung telah terbiasa dengan kegaduhan yang dibuat oleh monyet-monyet.

Mereka tetap berdoa dengan penuh konsentrasi.

Untuk sejarah tentang Pura Pulaki, anda bisa baca disini

Jika anda ingin merasakan sensasi berada di Pura Pulaki, dan menikmati keindahan disekelilingnya... silahkan berkunjung!

Senin, 21 Januari 2013

Objek Wisata: Taman Buaya, Badung Bali

Taman Buaya, Badung Bali

Jika beberapa waktu yang lalu, Roombucket berbagi cerita tentang Bali Zoo (Kebun Binatang Bali). Kali ini roombucket akan menceritakan tentang satu taman lagi yang terdapat di Badung, Bali, yaitu Taman Buaya (Crocodile Park).


Tepatnya, Taman Buaya ini terletak di Desa Werdi Bhuwana, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Kawasan yang berada pada jalur menuju Bedugul atau Singaraja adalah satu objek wisata yang tak hanya disukai turis lokal namun juga turis mancanegara.

Waktu saya berkunjung kesana, tiket per orang adalah Rp. 20.000,- saja. Harga tiketnya masih dalam jumlah yang sama sampai saat ini.

Taman Buaya ini mencakup luas sekitar 2 hektar, di dalamnya terdapat penangkaran buaya dengan berbagai ukuran dari buaya yang masih bayi sampai dengan buaya dewasa yang berukuran besar. Tidak hanya buaya lho, di Taman Buaya ini anda juga bisa melihat spesies berbahaya namun jinak seperti komodo, ular kobra, piton dan jenis kadal lainnya.

Anda dapat memberi makan buaya dengan seekor itik atau jenis unggas lainnya yang disediakan disana.
Seorang teman nampak mengambil sebilah bambu yang kemudian usil mengganggu buaya yang sedang tidur dengan mulut menganga, ya pastinya buaya itu geram dan marah. Namun tenang saja, buaya berada dalam penangkaran.


Tak jarang Taman Buaya ini menjadi pilihan untuk rekreasi belajar sekaligus refreshing bagi anak sekolahan.

Pada hari-hari tertentu, di Taman Buaya ini akan menyuguhkan beberapa atraksi buaya yang telah dijinakan oleh pawangnya yang khusus.

Selain itu anda dapat mengabadikan moment wisata anda dengan berfoto bersama buaya di bawah pengawasan pawang buaya.

Berani ??? Silahkan berkunjung ke Taman Buaya, Badung Bali...

Kamis, 17 Januari 2013

Objek Wisata Bedugul: Danau Bratan

Beberapa hari yang lalu saya menulis tentang Objek Wisata: Kintamani, tempat biasa saya lewati ketika hendak pulang ke kampung halaman Singaraja (dari Denpasar). Nah satu jalan lagi yang menghubungkan Denpasar-Singaraja adalah melewati Bedugul.

Selain Kebun Raya Bedugul (Bali Botanical Garden), satu lagi objek wisata yang sangat di gemari untuk dikunjungi adalah Danau Bratan, yang akan saya tulis pada kesempatan ini.


Bedugul itu sendiri terletak di dataran tinggi yang merupakan wilayah dari Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Untuk mencapai tempat ini dari Denpasar kira-kira membutuhkan waktu 120 menit berkendara dari Kota Denpasar, atau sekitar 90 menit dari Kota Singaraja.

Karena terletak di dataran tinggi, pastinya anda pasti tau, tempat ini sangat sejuk dan kadang-kadang di selimuti kabut.

Sudah pernahkah anda mengunjungi Bedugul, menikmati kesejukan dan keindahan Danau Bratan? Jawaban dari anda pasti bervariasi; sudah, sering, belum, bulan depan hendak kesana, dan sebagainya... Yang pasti, anda tidak akan menyesal mengunjungi objek wisata satu ini.

Ketika kita sampai di kawasan Danau Bratan, siapapun akan terkesima menyaksikan hamparan Danau Bratan dan tersadar bahwa kuasa Tuhan sebagai sang Pencipta memang tidak ada bandingannya. Kesejukan dan kenyamanan ketika berada di danau inipun seakan merayu kita untuk berlama-lama berada disana.

Satu lagi pemandangan yang menambah keindahan di Danau Bratan ini yakni sebuah Pura di sebelah barat Danau Bratan, dengan posisi yang agak menjorok ke danau yang dengan meru yang berjumlah 11 atap didedikasikan untuk Siwa dan istrinya Parwati, menjulang begitu anggun.

Pura tersebut adalah Pura Ulun Danu Bratan.




Pura ini dibangun untuk digunakan sebagai tempat pemujaan dan tempat upacara persembahan untuk Dewi Danu, Dewi Kemakmuran. Danau Bratan merupakan salah satu danau penting dalam hal irigasi.

Apabila anda ingin tau lebih dalam, masuklah ke kawasan Pura tersebut. Dalam perjalanan menuju pura tersebut, Anda akan dipertontonkan pada sebuah taman yang sangat indah dan asri lengkap dengan bunga yang berwarna warni didalamnya.

Nah yang unik, di kawasan pura tersebut anda akan menemukan Candi Budha yang hingga kini masih digunakan.

Jika anda belum puas dengan hanya menyaksikan keindahan Danau Bratan dan juga pemandangan Pura Ulun Danu Bratan, anda bisa menikmati langsung indahnya panorama Danau Bratan yaitu mengelilingi danau dengan menyewa perahu atau perahu motor yang terdapat disana. Lengkap bukan???

Selamat berkunjung ke Danau Bratan....

(Berbagai sumber)

Rabu, 16 Januari 2013

Umat Hindu: Hari Raya Pagerwesi

Hari Raya Pagerwesi



Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.

Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:

"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh."

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:

Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah.

Artinya:

Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Hakikat pelaksanaan upacara Pegerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga.

Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah "Sesayut Panca Lingga" sedangkan perlengkapannya Daksina, Suci Praspenyeneng dan Banten Penek. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan. Banten yang paling inti perayaan Pegerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip, Prayascita, Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina, Canang dan Sodaan. Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

Makna Filosofi

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.

Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."

Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan.

Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.

Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:

Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).

Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan.

Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.

Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.

Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata.

Dalam Manawa Dharmasastra V, 109 disebutkan:

Atma dibersihkan dengan tapa bratabudhi dibersihkan dengan ilmu pengetahuan (widia) manah (pikiran) dibersihkan dengan kebenaran dan kejujuran yang disebut satya.

Penjelasan Manawa Dharmasastra ini adalah bahwa atma yang tidak diselimuti oleh awan kegelapan dari hawa nafsu akan dapat menerima vibrasi spiritual dari Brahman. Vibrasi spiritual itulah sebagai pagar besi dari kehidupan dan itu pulalah guru sejati. Karena itu amat ditekankan pada Hari Raya Pagerwesi para pendeta agar ngarga, mapasang lingga.

Ngarga adalah suatu tempat untuk membuat tirtha bagi para pendeta. Sebelum membuat tirtha, terlebih dahulu pendeta menyucikan arga dengan air, dengan pengasepan sampai disucikan dengan mantra-mantra tertentu sehingga tirtha yang dihasilkan betul-betul amat suci. Pembuatan tirtha dalam upacara-upacara besar dilakukan dengan mapulang lingga. Tirtha suci itulah yang akan dibagikan kepada umat. Mengingat ngargha mapasang lingga dianjurkan oleh lontar Sundarigama pada hari Pagerwesi ini, berarti para pendeta harus melakukan hal yang amat utama untuk mencapai vibrasi spiritual payogan Sanghyang Pramesti Guru.

Sesayut Panca Lingga dengan inti ketipat Lingga adalah memohon lima manifestasi Siwa untuk memberikan benteng kekuatan (pager besi) dalam menghadapi hidup ini. Para pendetalah yang mempunyai kewajiban menghadirkan lebih intensif dalam masyarakat. Kemahakuasaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa dengan simbol Panca Lingga, Sesayut Pageh Urip bagi kebanyakan atau umat yang masih walaka. Kata "pageh" artinya "pagar" atau "teguh" sedangkan "urip" artinya "hidup". "Pageh urip" artinya hidup yang teguh atau hidup yang terlindungi. Kata "sesayut" berasal dari bahasa Jawa dari kata "ayu" artinya selamat atau sejahtera.

Natab Sesayut artinya mohon keselamatan atau kerahayuan. Banten Sesayut memakai alas sesayut yang bentuknya bundar dan maiseh dari daun kelapa. Bentuk ini melambangkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan haruslah secara bertahap dan beren-cana. Tidak bisa suatu kebaikan itu diwujudkan dengan cara yang ambisius. Demikianlah sepintas filosofi yang terkandung dalam lambang upacara Pagerwesi.

Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan hari raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima pada intinya adalah hari raya untuk memuja Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu ten-tang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana.

Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adi guru loka yaitu gurunya alam semesta.

Sedangkan Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnama. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24. 000 sloka Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra. Ke-24 suku kata suci dari Tri Pada Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adi guru loka yaitu maha gurunya alam semesta.

Sampai saat ini Mahabharata dan Ramayana yang disebut itihasa adalah merupakan pagar besi dari manusia untuk melindungi dirinya dari serangan hawa nafsu jahat.

Jika kita boleh mengambil kesimpulan, kiranya Hari Raya Pagerwesi di Indonesia dengan Hari Raya Guru Purnima dan Walmiki Jayanti memiliki semangat yang searah untuk memuja Tuhan dan resi sebagai guru yang menuntun manusia menuju hidup yang kuat dan suci. Nilai hakiki dari perayaan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dengan Pegerwesi dapat dipadukan. Namun bagaimana cara perayaannya, tentu lebih tepat disesuaikan dengan budaya atau tradisi masing-masing tempat. Yang penting adalah adanya pemadatan nilai atau penambahan makna dari memuja Sanghyang Pramesti Guru ditambah dengan memperdalam pemahaman akan jasa-jasa para resi, seperti Resi Vyasa, Resi Walmiki dan resi-resi yang sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia.

(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)


Hari ini, tanggal 16 Januari 2013 bertepatan dengan hari raya ini, roombucket mengucapkan selamat Hari Raya Pagerwesi buat seluruh umat Hindu.

Minggu, 13 Januari 2013

Objek Wisata Pecatu-Bali: Pantai Labuan Sait

Pantai oh pantai... Hmmmm, di Bali memang memiliki banyak pantai yang indah. Sebagai orang Bali, enggak apa-apa donk berbangga ngomong gini karna memang kenyataan.

Walaupun gak terlalu terkenal seperti pantai Kuta atau Sanur, namun pantai ini merupakan salah satu pantai indah yang harus anda kunjungi ketika berlibur ke Bali.

Namanya pantai apa ya??? Kasitau gak ya... hehe.. Namanya pantai Labuan Sait. Yup, pantai ini terletak di Bali Selatan, tepatnya di Desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung.

Konon, katanya Pantai Labuan Sait ini merupakan pelabuhan niaga dan pangkalan kapal perang kerajaan-kerajaan di Bali selatan, selain itu pada waktu-waktu tertentu, pantai ini juga sering digunakan sebagai tempat upacara Melasti (penyucian perlengkapan upacara keagamaan).

Kira-kira anda membutuhkan waktu 75 menit berkendara dari kota Denpasar menuju pantai Labuan Sait. Kebtulan nih, saya baru pertama kali berkunjung kesana, tadi sore. :)

Dekat dengan tempat parkir, ada sebuah jembatan dimana dari sana kita bisa menikmati pemandangan pantainya.



Hasrat sudah tidak sabar ingin menginjakkan kaki di pantai Labuan Sait, saya pun melangkah melalui satu-satunya jalan menuju pantai. Nah, perlu anda ketahui pantai Labuan Sait berada di balik batu karang, untuk sampai kepantai Labuan Sait, terlebih dahulu melalui terowongan batu karang yang panjangnya kira-kira 8 meter. Keren kan???

Waaah... ramai sekali, bukan hanya penduduk lokal dan wisatawan lokal, bahkan mancanegara juga. Pantai Labuan Sait memang keren.





Pantai nya berpasir putih dan bersih. Dengan batu karang yang berada di pinggiran pantai membuat pemandangan semakin indah.

Ombak saat itu tidak terlalu besar, tidak sedikit pengunjung menikmati air laut dengan berenang di dalamnya.

Suasana di pantai ini juga saat tenang sehingga sangat cocok untuk tempat rekreasi, bersantai, mandi sinar matahari, bahkan ketika ombak besar, pantai ini juga tepat untuk mereka yang gemar berselancar.

Jika anda ingin menikmati suasana pantai yang tenang, pantai Labuan Sait dapat anda jadikan salah satu tujuan saat anda berlibur ke Bali.

Jumat, 11 Januari 2013

Objek Wisata: Kintamani

Satu lagi tempat wisata yang seringkali saya lewati dalam perjalanan Denpasar menuju kampung halaman saya, Singaraja (selain melewati Bedugul). Obyek Wisata bali ini terletak Kawasan Batur terletak di Desa Batur, Kapupaten Bangli, Kecamatan Kintamani. Untuk mencapai lokasi ini dari pusat kota Denpasar membutuhkan waktu kira-kira 2 jam berkendara.


Kintamani adalah objek wisata perbukitan dengan pemandangan danau batur yang sangat indah. Kawasan ini merupakan kawasan dingin yang kerap kali di penuhi kabut dan sering kali turun hujan. Jadi, jika anda beruntung ketika mengunjungi tempat ini, di saat cuaca cerah dan tidak berkabut apalagi hujan, akan sangat menyegarkan mata anda menikmati pemandangan gunung dan danau Batur yang disuguhkan. Tepatnya, berkunjunglah disaat pagi dan siang hari, atau anda bisa menikmati pemandangan yang indah sembari menikmati makan siang anda di beberapa restoran murah yang terdapat disana.

Kintamani sendiri juga sangat favorit bagi anda yang suka mendaki gunung yaitu gunung Batur. Pastinya anda harus bangun pagi-pagi, karena pendakian akan dilakukan kira-kira pukul 3 atau 4 pagi yang tentunya diharapkan akan mencapai puncak sekitar pukul 6 pagi atau tepatnya mentari muncul dari tidurnya, yang akan menyuguhkan pemandangan Matahari terbit (Sun Rise) di puncak gunung Batur. Menakjubkan bukan??? Sayangnya, saya belum pernah mendaki disana... hehe, tapi suatu saat pasti bisa. Dari puncak, anda juga bisa menyaksikan Gunung Agung dan Gunung Rinjani.

Di kawasan kintamani kita bisa menyaksikan keindahan kepundan gunung batur dengan danau batur yang berlokasi bersebelahan, Menurut berita, sempat terjadi dua letusan gunung yang terjadi pada tahun 1917 dan 1926 serta tahun 1994 terjadi letusan kecil . Dengan danau Batur yang terletak di kaki gunung Batur memberikan suasana pemandangan yang menakjubkan.

Sudah tidak sabar pengen berkunjung? Kintamani sungguh merupakan salah satu objek wisata yang sangat menakjubkan buat anda yang ber wisata ke bali, yang pastinya harus anda kunjungi. 

Selamat berkunjung....