Bedugul

Objek wisata Bedugul terletak di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Tanah Lot

Objek wisata Tanah Lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, Bali.

Garuda Wisnu Kencana

Objek wisata GWK terletak di tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.

Kintamani

Objek wisata Kintamani terletak di Desa Batur, Kecamatan Kintamani Kabupaten Daerah Tingkat II Bangli, Bali.

Sangeh

Objek wisata Sangeh terletak di Desa Sangeh,Kecamatan Abiansemal,Kabupaten Badung, Bali.

Tampilkan postingan dengan label Bali dan Objek Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bali dan Objek Wisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 September 2013

Nama Orang Bali

Haloooo sahabat roombucket... Jangan pernah bosen yah baca tentang Bali...hehehe

Jika Anda sering mendengar Bali, Anda tentu sering mendengar nama-nama khas Bali mulai Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus, dan sebagainya. Seperti nama saya, Kadek karena saya anak kedua dalam keluarga saya. Semua nama itu ternyata ada artinya.


Kita mulai dulu dengan sebutan I dan Ni pada nama-nama orang Bali.
Huruf I di depan nama Wayan misalnya, adalah kata sandang yang bermakna laki-laki.
Sementara kata sandang penanda kelamin perempuan adalah Ni. I dan Ni juga bermakna seorang lelaki dan wanita dari keluarga masyarakat kebanyakan, tidak berkasta atau biasa disebut orang jaba.
Jika ia terlahir di keluarga penempa besi,  maka orang Bali ini bernama Pande. Bila di depan Wayan gelarnya Ida Bagus, ia tentu terlahir di keluarga Brahmana. Ida Bagus berarti yang Tampan atau Terhormat.  Jika saja ia digelari Anak Agung, maka ia lahir di keluarga bangsawan.

Nama Wayan berasal dari kata “wayahan" yang artinya yang paling matang atau pertama.  Titel anak kedua adalah Made yang berakar dari kata "Madia" yang artinya tengah. Anak ketiga dipanggil Nyoman yang secara etimologis berasal dari kata "uman" yang bermakna “sisa” atau “akhir”.  Jadi menurut pandangan hidup orang Bali, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja.  Setelah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak.

Anak keempat gelarnya Ketut. Ia berasal dari kata kuno "Kitut" yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak "bonus" yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bernama Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini.

Menurut situs balirustique.com, orang Bali memiliki sebuah tabu atau pantangan bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, yang di Bali disebut bikul, jika sedang ada  di sawah. Menyebut tikus di sawah, dipercaya bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu jika sedang di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial  ”Jero Ketut”.  Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam.

Bila keluarga berencana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak, maka mulai dari anak kelima, orang Bali mengulang siklus titel di atas. Anak kelima bergelar Wayan, keenam Made, dan seterusnya.

Namun jika bicara lebih rinci, ketiga titel hirarki kelahiran orang Bali memiliki sinonim dan 
Wayan: Putu, Kompiang, atau Gede diberikan untuk nama anak pertama.
Made: Kadek atau Nengah diberikan untuk nama anak kedua.
Nyoman: Komang diberikan untuk nama anak ketiga.
Sementara nama Ketut yang istimewa tak bersinonim. Ketut diberikan untuk nama anak keempat.
Apabila memiliki anak lebih daripada empat, nama yang dipakai adalah sesuai urutan nama pertama sampai keempat diatas.

Seperti orang Jawa, orang Bali tidak memiliki nama marga atau nama keluarga (family name). Jadi kalau dilihat dari kaca mata orang barat, orang Bali hanya memiliki first name tanpa family name. Konon ini memudahkan orang untuk menyamar di waktu perang.  Bahkan bila terpaksa, setelah kekalahan militer, seorang bangsawan bisa mengaku sebagai orang kebanyakan. Dan seluruh keturunannya pun terpaksa memakai titel I atau Ni.

Banyak hal yang berubah di Bali sejak  kemerdekaan Indonesia. Bila di zaman dulu orang menamai anaknya sekehendak hati, sering tanpa arti, atau hanya onomatope, di zaman sekarang ini, orang-orang mulai ramai memakai nama yang berasal dari bahasa Sanskerta. Dan seiring berkembangnya zaman, Ada juga nama orang Bali kini yang sudah 'bernuansa' barat seperti misal I Ketut Bobby atau Ni Luh Ayu Cindy. Bahkan adapula keluarga yang menghilangkan nama Bali sama sekali. Kembali lagi pada orang tuanya masing-masing.
  
(berbagai sumber)

Senin, 09 September 2013

Pasar Sukawati Bali

Berbicara tentang Bali, seakan tidak pernah ada habisnya ya... Wisatawan domestik dan mancanegara pun seakan berlomba untuk mengunjungi dan kembali berkunjung ke Bali. Tentu saja bukan hanya untuk mengunjungi objek-objek wisata yang ada, namun juga untuk berburu beraneka ragam kerajinan atau barang-barang khas Bali. Barang-barang khas Bali yang sering dijadikan barang koleksi sendiri ataupun untuk oleh-oleh kepada orang tersayang, teman dan kerabatnya.

Bali sebagai pulau pusat seni, memiliki dan melahirkan begitu banyak orang-orang yang berjiwa seni tinggi menjadi seniman dan menghasilkan banyak hasil karya yang tentunya sangat khas Bali.

Nah, jikalau sahabat roombucket ke Bali, kemana mencari dan membeli barang-barang khas Bali tersebut? Ada satu tempat yang paling terkenal di Bali, akan roombucket ceritakan pada kesempatan ini. Tempat yang biasa dijadikan pilihan wisatawan untuk membeli oleh-oleh dari Bali. Tempat apa itu? Yup, Pasar Sukawati atau Pasar Seni Sukawati. Mungkin Anda sudah tau atau bahkan sering mendengarnya...

 
Pasar Seni Sukawati ini terletak di Daerah Tingkat II Gianyar, yang terkenal dengan keseniannya. Dari kota Denpasar, sahabat roombucket membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit berkendara. Berbagai jenis kerajinan ada di sana, mulai dari kaos khas Bali, patung, lukisan, sprei, bisa didapatkan dengan harga yang murah. Yang pasti, lebih murah dibandingkan tempat lain.


Harga yang ditawarkan biasanya tinggi, tapi masih bisa ditawar lagi. Tergantung dari kesepakatan antara penjual dan pembeli. Nah, di sini dibutuhkan keberanian dan kesabaran untuk tawar menawar harga, agar bisa mendapatkan barang dengan harga yang paling murah.


Apalagi jika Anda bisa bahasa Bali, dan menawar dengan dialog Bali, kita bisa mendapatkan harga yang sangat murah. Barangkali si penjual mengira kita orang Bali asli. Sahabat roombucket harus kursus bahasa Bali terlebih dahulu sebelum kesana...hahaha... Yang pasti, pintar-pintarlah menawar.

Kamis, 13 Juni 2013

Pesta Kesenian Bali ke-35 Tahun 2013

Siapa yang tidak kenal Bali, pulau yang dianugrahi keindahan alam yang menakjubkan dan juga keanekaragaman kebudayaan yang dimilikinya menjadikan Bali sangat diminati banyak wisatawan. Sudah pasti, semua yang dimiliki Bali harus dijaga dan dilestarikan. Salah satunya; kebudayaannya, harus diwariskan dan diperkenalkan kepada generasi muda terus menerus, terutama pada masyarakat Bali itu sendiri dan juga masyarakat di seluruh jagat raya ini, sehingga kelestariannya tetap terjaga dan Bali semakin dikenal dan dikunjungi.
Anda pastinya sudah pernah mendengar Pesta Kesenian Bali atau PKB, bukan? Ini adalah salah satu upaya pemerintah provinsi Bali untuk melestarikan seni dan budaya Bali. Apa itu PKB? Sejarah singkatnya, PKB ini adalah sebagai media dan sarana untuk menggali dan melestarikan seni budaya serta meningkatkan kesejahteraan. Penggalian dan pelestarian seni budaya meliputi filosofi, nilai-nilai luhur dan universal, konsep-konsep dasar, warisan budaya baik benda atau bukan benda yang bernilai sejarah tinggi, ilmu pengetahuan dan seni sebagai representasi peradaban serta pengembangan kesenian melalui kreasi, inovasi, adaptasi budaya dengan harapan agar tetap hidup dan ajeg berkelanjutan dalam konteks perubahan waktu dan jaman serta dalam lingkungan yang selalu berubah.

Adapun tujuan dari penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) ini adalah untuk menampung hasil karya cipta, seni dan aspirasi berkesenian baik kesenian hasil rekonstruksi, seni hasil inovasi, atraksi kesenian serta apresiasi seni dan budaya masyarakat Bali khususnya. PKB untuk pertama kali pada tahun 1979 dan Almarhum Bapak Prof. Dr. Ida Bagus Mantra sebagai penggagas awal pergelaran acara ini. Pesta Kesenian Bali yang secara rutin digelar setahun sekali, dimana banyak pihak yang berpartisipasi dan ikut terlibat didalamnya. Tidak hanya pemerintah provinsi namun juga para seniman, dan masyarakat penikmat seni itu sendiri.

Pastinya, banyak diantara anda yang secara rutin mengunjungi PKB tersebut setiap tahunnya. Nah bulan Juni ini, PKB kembali digelar dan hadir untuk anda semuanya.


Pesta Kesenian Bali tahun 2013 ini akan digelar pada tanggal 15 Juni - 13 Juli 2013. Kemudian, apa tema yang diangkat pada pagelaran PKB tahun ini? Tema PKB kali ini yakni " Taksu: Membangkitkan Daya Kreatif dan Jati Diri" yang seperti biasa akan dibuka oleh Bapak Presiden Republik Indonesia dan tahun ini pastinya Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang akan membuka acara besar ini. Namun, kali ini diberitakan Bapak Presiden hanya menghadiri pembukaan di Art Center Denpasar pada malam harinya sekitar pukul 20.00 Wita.

Selain peserta dari Bali, ada juga belasan peserta dari beberapa provinsi yang saat ini sudah berdatangan ke Bali. Mereka akan mengikuti pagelaran ini sejak pembukaan acara dan pawai yang dilaksanakan di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon Denpasar. Dalam PKB kali ini akan diikuti beberapa peserta dari luar negeri seperti Amerika Serikat, India, Timor Leste dan beberapa negera lainnya. Ada juga kolaborasi peserta antara seniman Indonesia dan seniman asing.

Adapun rangkaian acara pada Pesta Kesenian Bali yang ke 35 tahun 2013 ini (sumber), adalah:

(click gambar untuk memperbesar)

(click gambar untuk memperbesar)

(click gambar untuk memperbesar)

(click gambar untuk memperbesar)

Selamat berkunjung dan menyaksikan Pesta Kesenian Bali yang ke-35 di Tahun 2013 ini ya para sahabat roombucket. PKB digelar secara sebulan penuh lho. Jadi banyak waktu dan banyak hari untuk anda menyempatkan diri berkunjung menyaksikan berbagai acara yang disuguhkan. Tempatnya sudah tau khan? seperti biasa, pagelaran acara akbar ini selalu bertempat di Taman Budaya Art Centre, Denpasar. Jangan sampai gak datang...

Senin, 22 April 2013

Objek Wisata Bali: Taman Ujung Bali

Memang sungguh menyenangkan tinggal di Pulau Bali, Pulau yang memiliki banyak sekali tempat wisata. Hampir semua tempat wisatanya indah dan tidak pernah sepi dari kunjungan wisata domestik maupun internasional.

Bahkan saya yang lahir dan menetap di Bali pun belum bisa mengunjungi seluruh tempat wisata yang ada di Bali. Banyak banget sih...hehehe

Hari Minggu lalu yang lalu merupakan hari libur yang saya gunakan untuk jalan-jalan dan refreshing... Sudah diputuskan sebelumnya, bahwa hari minggu ini saya dan teman-teman untuk mengunjungi salah satu tempat yang berada di wilayah timur Kabupaten Karangasem, di Desa Tumbu, yang dapat dicapai sekitar dua jam dari kota Denpasar.

Yup, satu tempat yang bernama Taman Ujung atau dikenal juga sebagai Taman Sukasada Ujung merupakan salah satu objek wisata sejarah yang terdapat di pulau Bali tercinta ini.

Setelah 2 jam lebih berkendara yang lumayan melelahkan, seketika terobati manakala saya sudah sampai pada lokasi target walaupun tepat pada pukul 12 siang, panas terik yang mengalirkan keringat tidak masalah buat saya. WOW WOW WOW... lebay ya? hehe... memang saya sangat takjub, maklum ini kali pertama saya mengunjungi Taman Ujung tersebut.


Hanya merogoh kocek 5rb rupiah kamipun dengan bebas memasuki Taman Ujung ini. Sebuah jembatan beton yang panjang menghubungkan area parkir dengan Taman yang indah ini.

Taman yang begitu luas, dengan kolam besar di tengahnya, dan pemandangan lain yang sangat menyejukkan mata, benar-benar membuat terkesima. Karena memang Taman Ujung berlokasi di antara gunung dan pantai.

Sayapun menuju tempat yang paling ujung terlebih dulu, dimana tempat yang paling tinggi di area Taman Ujung, disana saya menyaksikan dan menikmati pemandangan ke bawah dan sekitarnya.


Bangunan yang terdapat di dalamnya adalah gabungan dari arsitektur Bali, Eropa dan Cina. Taman Ujung adalah peninggalan raja Karangasem, sebuah kerajaan Hindu jaman dulu. Taman ini dibangun pada tahun 1919 oleh Raja Karangasem terakhir, I Gusti Bagus Jelantik, yang memerintah di Karangasem antara 1909 dan 1945. Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 menghancurkan istana air dan semakin rusak akibat gempa bumi besar tahun 1979. Namun pemerintah telah melakukan pemugaran terhadap tempat ini.

Di tengah-tengah kolam terdapat bangunan yang dihubungkan jembatan dari sisi kiri dan kanan, dimana yang dulunya adalah istana Raja dan keluarganya. keren gak? tentu saja, ditengah kolam gitu...:). Dalam istana tersebut, kita bisa melihat dan menyaksikan lukisan-lukisan didinding yang menampilkan Raja, keluarga, dan kerabatnya...





Bahkan ada yang memilih tempat ini sebagai tempat photo prawedding mereka... :)


Wah, tidak terasa dua jam sudah berada di Taman Ujung yang indah, sampai-sampai urusan perutpun terlupakan. Namun, sayang sekali kami harus memutuskan untuk meninggalkan tempat ini dan mengunjungi tempat lain lagi..:)


Jadi bagi siapapun yang  bernyali jalan jauh, tempat ini cukup menantang untuk dikunjungi. :P

Semoga Bermanfaat dan menambah semangat bagi sahabat roombucket yang belum dapat refreshing ke Taman Ujung Bali.

Wah, perut sudah keroncongan. Akhirnya kamipun menikmati makan siang kami di Pantai indah, Pantai Candidasa (Next Post).

Senin, 08 April 2013

Objek Wisata Bali: Desa Trunyan (Bali Aga)

Salam hangat dari Roombucket....

Perjalanan yang cukup melelahkan namun menyenangkan, kami akhirnya sampai juga di Kintamani menikmati keindahan Danau dan Gunung Batur.

Saat itu saya bersama teman-teman dari Jakarta mengunjungi tempat sejuk tersebut. Namun, gak sengaja saya menceritakan tentang sebuah Desa yang terlihat di seberang danau yaitu Desa Trunyan.


Sekilas, saya menceritakan sebuah pohon besar dan mayat dari orang-orang yang meninggal disana hanya diletakkan di bawah pohon tersebut (tanpa dikubur). Begitu yang saya tau. "Serem banget ya" demikian rata-rata komentar teman-teman saya yang kebetulan adalah wanita semua.

Namun, mereka begitu penasaran dan tertarik untuk mengunjungi, melihat, dan merasakan langsung berada di Desa Trunyan tersebut. Akhirnya, setelah puas menikmati pemandangan di sepanjang jalan menikmati kaki Danau Batur, kamipun mencari informasi dengan bertanya dengan penduduk setempat untuk mencapai desa Trunyan.

Agar bisa menginjakkan kaki di desa Trunyan, kita harus melewati laut dengan menggunakan perahu motor dan dikenakan biaya 400rb per perahu. Perahunya bisa mengangkut 7-8 penumpang saja. Desa Trunyan bisa dicapai dengan waktu 20 menit.


Saya pun memastikan kepada seorang teman, dengan meneleponnya dan saya pun mendapatkan informasi bahwa harganya memang standar dengan yang disebutkan di atas. Dan sebuah informasi baru yang saya dapat dari teman saya katanya sudah ada jalur darat yang bisa dilewati untuk mencapai Desa Trunyan. Benarkah???

Sayapun bertanya kepada penduduk sekitar bahwa memang ada, namun jalan yang akan dilewati masih dalam keadaan rusak berat, itupun butuh waktu sekitar 45 menit.

Hmmm.... Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Desa Trunyan dilain waktu, lagipula jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat itu.

Dari informasi yang dikumpulkan, dengan senang hati roombucket akan berbagi disini mengenai Desa Trunyan dan mayat yang tak dikubur.

Di Desa Trunyan ini terdapat pohon yang bernama Taru Menyan oleh karena itu desanya dinamakan Trunyan, yakni singkatan daripada nama pohon tersebut.

Taru berarti Pohon, Menyan berarti Harum. Taru Menyan hanya tumbuh didaerah ini.

Trunyan merupakan satu dari tiga Suku Bali asli [Bali Aga], yaitu suku yang ada dibali sebelum Jaman Majapahit dan sebelum gelombang pengungsian warga kerajaan Majapahit terakhir yang menolak menjadi Muslim [hijrah ke Bali]. Dua suku Bali asli lainnya adalah Suku Tenganan di Karang Asem [Smarapura] dan Suku Yeh Tipat di Singaraja. Trunyan termasuk di lingkup Kabupaten Bangli.

 Suku Trunyan, punya tiga cara unik menangani mayat, diupacarai yang setara dengan upacara ngaben di tempat lain:

    Untuk yang meninggal adalah Bayi, maka mayatnya dikubur, lokasinya disebut Sema Muda, kira-kira 200 meter-an ke sebelah kanan lagi namun sebelum desa trunyan dari arah sekarang ini.

    Untuk yang meninggal adalah orang yang kecelakaan, dibunuh atau bukan karena mati normal. Maka mereka anggap itu mempunyai kesalahan besar. Lokasi mereka di kubur [Sema bantas] adalah di perbatasan antara desa Trunyan dan Desa abang. Letaknya Jauh dari tempat kami sekarang.

    Untuk yang mati normal, Mayat mereka diberi kain putih dan hanya diletakan dibawah Taru Menyan. Maksudnya mati normal adalah tidak punya salah/kesalahan sesuatu, diluar kreteria di atas.

Mayat itu diletakan di atas tanah dengan lubang yang sangat dangkal [kira-kira 10 - 20 cm]. Tujuannya supaya tidak bergeser-geser [karena bidang tanah ditempat itu tidaklah dapat disebut datar]. Jumlah maksimum mayat yang diperkenankan ada di bawah pohon taru menyan adalah 11 mayat. Alasannya adalah mayat yang ke 12 dan seterusnya, akan berbau.


Hmmm... penasaran. Pengen datang dan melihat langsung, nanti saja saya ceritakan kembali seusai berkunjung dari Desa Trunyan. Hehe. Trunyan, We will come soon!.

Ada yang mau kesana bareng saya? :P


(berbagai sumber)

Senin, 01 April 2013

Objek Wisata Bali: Pantai Pandawa Uluwatu

Roombucket lagi-lagi berbagi cerita nih tentang pantai yang ada di Bali, gak ada habis-habisnya memang kalo ngomongin objek wisata Bali apalagi pantainya, di Bali memang sarangnya ya... hehe


Bukan Bali namanya kalau tidak bisa “membuat” tempat baru untuk menarik kunjungan wisatawan.

Setelah mendengar terdapat pantai baru di kawasan Uluwatu, Bali, saya tidak sabar untuk mengunjunginya. Akhirnya kesampaian juga, sampai saat ini sudah dua kali saya berkunjung kesana. 



Takjub, kawasan wisata pantai yang sangat menakjubkan. Pantai yang berada di wilayah Desa Kutuh Kabupaten Badung, tepat di sisi selatan pusat pemerintahan Desa Kutuh.

Pantai PANDAWA namanya. Kenapa dinamakan Pantai Pandawa? karena pada sisi tebing yang terjal terdapat patung dari Panca Pandawa yakni lima tokoh pewayangan tersebut serta akan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang tidak saja gemar berwisata di pantai akan tetapi bisa mengabadikan tokoh pewayangan ini (saat ini, patung-patung tersebut dalam proses pengerjaan).


Yang unik di pantai Pandawa ini, pemandangan di kawasan wisata Pantai Pandawa sangat mempesona.  Sejak memasuki kawasan wisata ini, mata kita akan dibuat terpana dan terbelalak oleh indahnya pemandangan tebing yang terjal dan tinggi di kanan-kiri jalan.

Kita kembali akan dibuat kagum saat memasuki area pantai Pandawa. Panorama begitu indah nan menawan dimana pasirnya putih bersih dengan air laut yang hijau kebiruan. Suasana pantainya sepi dan tenang. Pantai ini sangat cocok untuk mandi atau berenang karena lautnya yang tenang.





Dulunya pantai ini sering disebut dgn Secret Beach karena letaknya yang tersembunyi di kawasan balik bukit kapur, namun semenjak dibuka secara resmi oleh pemerintah setempat pada akhir Desember 2012 lalu dgn diadakan Festival, kini Pantai Pandawa mulai ramai dikunjungi wisatawan karena panorama alamnya yang eksotis. Bukan hanya wisatawan lokal, namun wisatawan mancanegara pula sudah banyak mengunjungi tempat ini.

Sebelum dikenal luas sebagai destinasi wisata, dulunya pantai ini hanya dijadikan sebagai tempat budidaya rumput laut oleh masyarakat sekitar sampai sekarang.

Letak pantai indah ini kira-kira 70 menit dari kota Denpasar, namun kepenatan akan terlepas sendirinya ketika anda menginjakkan kaki di kawasan Pantai Pandawa ini.

Jika anda berlibur ke Bali dan bosan dengan pantai Kuta, Sanur atau yang lainnya. Kini saatnya anda menikmati pemandangan yang berbeda, dengan berkunjung ke Pantai Pandawa.

Selamat berkunjung......

Selasa, 19 Maret 2013

Hari Raya Agama Hindu: Galungan dan Kuningan

Apabila beberapa waktu yang lalu roombucket menulis tentang hari raya Nyepi, salah satu hari raya agama Hindu yang baru seminggu yang lalu dirayakan dan dilewati seluruh umat di Bali, kini roombucket menulis sedikit tentang hari raya lain yang akan dirayakan umat Hindu pada bulan Maret 2013 ini juga yakni Hari Raya Galungan dan Kuningan, tepatnya akan dirayakan tanggal 27 Maret 2013. Hari Raya Galungan dan Kuningan dirayakan umat Hindu di Bali enam bulan sekali atau dua kali dalam setahun.

Memang agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Jadi, Hari raya Galungan merupakan hari raya kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

Pada hari raya Galungan, ada tradisi untuk membuat Penjor yang merupakan simbol dari Gunung sekaligus simbol keberadaan para Dewa. Penjor biasanya dibuat sebelum hari raya Galungan dan dipasang pada hari menjelang Hari raya Galungan, umat Hindu di Bali memasang penjor di depan rumah masing-masing.


Nah, adapun makna dan rangkaian lengkap daripada Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan tersebut adalah sebagai berikut (sumber):

1. Hari Sabtu Kliwon Wariga yang disebut dengan Tumpek Pengarah atau Pengatag, tepatnya 25 hari sebelum Hari Raya Galungan dan persembahan ditujukan kepada dewa Sankara (nama lain Dewa Siva)sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan dengan mempersembahkan sesajen pada pohon-pohon kayu yang menghasilkan buah, daun, dan bunga yang akan digunakan pada Hari Raya Galungan.

2. Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba ; yaitu Sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrokosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang. Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jaba artinya luar, jadi Hari Sugihan Jawa tersebut bukanlah hari Sugihan bagi para pengungsi leluhur-leluhur dari jawa pasca bubarnya Majapahit. Maksud sebenarnya adalah pembersihan Bhuana Agung - sekala-niskala.

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan: bahwa Sugihan Jawa merupakan "Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh" (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan yang terpenting adalah membersihkan badan phisik dari debu kotoran dunia Maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura.

3. Sugihan Bali; Jatuh pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang (sehari setelah Sugihan Jawa). Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri, sesuai dengan lontar Sundarigama: "Kalinggania amrestista raga tawulan" (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos) yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. Manusia tidak saja terdiri dari badan phisik tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira). Persiapan phisik dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita.

4. Panyekeban – puasa I ; Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan.Panyekeban artinya mengendalikan semua indrya dari pengaruh negatif, karena hari ini Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan : "Anyekung Jnana" artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan dan juga disebutkan "Nirmalakena" (orang yang pikirannya yang selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Bhuta Galungan.

Melihat pesan Panyekeban ini mewajibkan umat Hindu untuk mulai melaksanakan Brata atau Upavasa sehingga pemenuhan akan kebutuhan semua Indriya tidak jatuh kedalam kubangan dosa; pikirkan yang baik dan benar, berbicara kebenaran, berprilaku bijak dan bajik, mendengar kebenaran, menikmati makanan yang sattvika, dan yang lain, agar tetap memiliki kekuatan untuk menghalau godaan Sang Mara. Jadi tidak hanya nyekeb pisang (biu) atau tape untuk bebantenan saja.

5. Penyajaan – puasa II ; jatuh pada hari Senin Pon Dungulan. Pada hari ini umat mengadakan Tapa Brata Yoga Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. Penyajaan dalam lontar Sundarigama disebutkan : "Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi" upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan. Dengan Wiweka dan Winaya, manusia Hindu diajak untuk dapat memilah kemudian memilih yang mana benar dan salah. Bukan semata-mata membuat kue untuk upacara.

6. Penampahan – puasa III ; jatuh pada hari Selasa Wage Dungulan tepat sehari sebelum hari Raya Galungan. Penampahan berasal dari kata tampah atau sembelih artinya ; bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yakni Mabyakala yaitu memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan korban, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri (Sad Ripu, Sad Atatayi, Sapta Timira, dll), dan bukan di luar diri kita termasuk sifat- sifat hewani tersebut.

Ini sesuai dengan lontar Sundarigama yaitu ; "Pamyakala kala malaradan". Inilah puncak dari Brata dan Upavasa umat Hindu, bertempur melawan semua bentuk Ahamkara - kegelapan yang bercokol dalam diri.

Hari Penampahan Galungan inilah yang pada dewasa ini paling kehilangan makna spiritualnya yang paling penting. Konsentrasi kebanyakan keluarga membuat makanan yang enak-enak. Padahal ada upakara penting di Madya Mandala untuk Memohon Tirta dari Luhuring Akasa dalam rangka me-nyomia Buta Kala di Bhana Agung dan Alit yang sering terlewatkan. Selama ini justru sebagain besar dari kita malah berpesta pora makan, lupa terhadap jati diri, menikmati makanan, mabuk. Sehingga bukan Nyomya Bhuta Kala- Nyupat Angga Sarira, malah kita akhirnya menjelma jadi Bhuta itu sendiri.

7. Galungan – lebar puasa ; Jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, Hari ini merupakan hari kemenangan dharma terhadap adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini, dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan dalam usaha mencapai anandam atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka.

8. Manis Galungan; Setelah merayakan kemenangan , manusia merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara mesima krama dengan penuh keceriaan, berbagi suka cita, mengabarkan ajaran kebenaran betapa nikmatnya bisa meneguk kemenangan. Jadi pada hari ini umat Hindu wajib mewartakan-menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia inilah misi umat Hindu Dharma. Cara menyampaikan ajaran kebenaran adalah dengan Satyam Vada yaitu mengatakan dengan kesungguhan dan kejujuran.

9. Pemaridan Guru; Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, maknanya pada hari ini dilambangkan dengan kembalinya Dewata-dewati, pitara-pitari, para leluhur ke tempat payogannya masing-masing dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu ; hidup sehat umur panjang, dan hari ini umat menikmati waranugraha dari dewata. Di beberapa daerah dibali biasanya dilakukan dengan sarana banten "tegen-tegenan" yang berisi hasil bumi berupa padi, buah-buahan dan aneka rupa jajanan yang tujuannya diperuntukkan untuk memberikan bekal kepada para leluhur yang akan mantuk kembali ke sunya loka.

10. Pemacekan Agung; Jatuh pada hari Senen Kliwon wuku Kuningan. Tepat pada hari ini merupakan hari pertengahan dari rangkaian panjang hari raya Galungan. Hari ini tepat 30 hari dari sejak hari Tumpek Pengarah, dan 30 hari menjelang hari Pegat Uwakan (Buda Kliwon Pahang). Pada hari ini umat menancapkan dan meneguhkan tekadnya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menghadapi dan mengarungi kehidupan selanjutnya dengan senantiasa berjalan dalam koridor dharma. Pada hari ini dibeberapa wilayah dibali dilakukan persembahyangan dengan sarana raka ajengan tipat pesor sebagai rasa syukur dan sujud bakti kehadapanNya.

11. Sepuluh hari setelah Galungan disebut Kuningan. Pada Hari ini diyakini bahwa para dewata dan roh-roh leluhur akan turun ke marcapada/mayapada untuk menerima sembah bakti umat dan prati sentananya dengan segala cinta kasihnya, dan pada siang harinya para dewata dan roh suci leluhur kembali menuju kahyangan stana-nya masing-masing yang diyakini tempatnya di svargaloka (alam sorga). Kuningan merupakan hari kasih sayang, yang disimbulkan melalui berbagai pratika upakara seperti: tamiang, koleman, sulangi, tebo, dan endongan.

Rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan berkahir pada Hari rabu Kliwon wuku Pahang yang sering disebut hari raya Pegat Uwakan. Pada hari ini umat melakukan persembahyangan mengahturkan suksmaning manah lan idep kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia dan wara nugrahanya bisa melaksanakan rangkaian perayaan hari Raya Galungan dengan sempurna.

Demikian makna Hari Raya Galungan sebagai hari pendakian spritual dalam mencapai kemenangan /wijaya dalam hidup dan kehidupan ini, ditinjau dari sudut pelaksanaan upacara dan makna filosofisnya.

Bagi sahabat Hindu roombucket yang merayakan: Rahajeng nyanggra Rahina Galungan lan Kuningan, Semoga kemenangan Dharma atas Adharma memberi inspirasi bagi kita semua untuk selalu hidup lebih baik, meningkatkan keimanan kepada Tuhan, menjaga lingkungan, dan berinteraksi dengan lebih manusiawi, saling menghargai dan saling menghormati antar sesama manusia.

(berbagai sumber)

Sabtu, 09 Maret 2013

Selamat Hari Raya Nyepi: Happy Silence Day



Segenap Staf
PT. Yoss Bali Holiday Tour & Travel & Roombucket.com

Mengucapkan:

Tahun Baru Saka 1935
12 Maret 2013


 

Senin, 04 Maret 2013

HARI RAYA NYEPI (Silent Day) di Bali: 12 Maret 2013

Tidak terasa, tahun telah berganti malahan kita sudah berada di bulan ketiga tahun 2013 ini. Kali ini roombucket pengen berbagi cerita tentang salah satu hari raya terbesar agama Hindu di Bali yang akan segera datang, di bulan Maret 2013. Yup, NYEPI!


'Hari Raya Nyepi' adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Kegiatan dalam menyambut Hari Raya Nyepi ini ada 4 macam yaitu:

1. Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis.

Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.


2. Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem) melaksanakan upacara Bhuta Yadnya (mecaru). Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Sehari sebelum Nyepi juga merupakan hari dimana ogoh-ogoh akan diarak keliling kota atau desa. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Raksasa.



3. Hari raya Nyepi yaitu awal tahun baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa dilaksanakan upacara Yoga Samadhi.

Ada empat berata pantangan yang wajib diikuti pada saat hari raya Nyepi, disebut Catur Berata Penyepian, yaitu:

- Amati Geni yaitu berpantang menyalakan api

- Amati Karya yaitu menghentikan aktivitas kerja

- Amati Lelanguan yaitu berpantang menghibur diri / menghentikan kesenangan

- Amati Lelungaan yaitu berpantang bepergian

Jadi pada saat Nyepi, orang-orang hanya boleh berada di dalam rumah atau halaman rumah mereka. Saat itu, hanya ada polisi adat (pecalang) yang berpatroli mengamankan tempat/adat masing-masing.



4. Ngembak Geni yaitu hari setelah Nyepi. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.

Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.

Nah, kawan roombucket sekalian, Nyepi tahun ini jatuh pada tanggal 12 Maret 2013, dapat disimpulkan bahwa tanggal 12 Maret 2013 di Bali tidak ada aktivitas sama sekali selama 24 jam penuh sejak 06.00 pagi sampai 06.00 pagi keesokan harinya, 14 Maret 2013, setelah itu aktifitas pun kembali normal.

Bagi anda yang tinggal di luar Bali, mau merasakan Nyepi di Bali? Datang saja ke Bali, anda bisa menginap di Hotel atau di tempat saudara/keluarga anda. Tapi inget datangnya jangan tanggal 12 Maret 2013, karena bandara Ngurah Rai pun akan ditutup selama 24 jam.

Datanglah sebelum tanggal 12 Maret 2013... Anda bisa menonton pawai ogoh-ogoh sehari sebelum Nyepi, dan menikmati hari raya Nyepi yang khusuk di Bali, keesokan harinya.

Selamat menyambut Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1935 pada 12 Maret 2013!

(berbagai sumber)

Book Now